Hai, apa kabar semua? Semoga siapapun kamu yang baca tulisan ini sedang dalam keadaan yang baik-baik aja ya.
Buatku sendiri, rasanya sudah lumayan lama nggak mampir ke “pojok tulisan” ini. Lumayan lama juga nggak menuangkan isi kepala yang rasanya penuh banget akhir-akhir ini.
Hari ini kayaknya aku pengen sedikit going raw, nulis apa pun yang lagi aku pikirkan, tanpa banyak filter, dan sejujur mungkin sebagai seorang ibu.
Di “Irene’s Corner”, biasanya aku membagi tulisan ke beberapa topik. Kali ini tulisannya masuk ke “Motherhood Journey”, atau mungkin lebih tepatnya… curhat seorang ibu yang lagi banyak belajar tentang dirinya sendiri.
Biar nggak lama-lama, yuk langsung aja.
Irene yang Dulu “Kelihatan” Sabar
Sebelumnya, aku mau sedikit cerita tentang diriku dulu. Aku lahir sebagai anak tunggal. Jadi technically aku nggak punya pengalaman tumbuh besar dengan saudara kandung. Tapi aku cukup dekat dengan adik-adik sepupuku, dan dari situ mungkin mulai muncul rasa nyaman saat berada di dekat anak-anak kecil.
Aku memang suka anak kecil dari dulu. Entah kenapa aku selalu merasa “nyambung” dengan mereka. Aku suka bermain sama mereka, ngobrol sama mereka, dan anehnya… anak-anak kecil juga biasanya merasa aman saat dekat denganku.
Beranjak dewasa, aku akhirnya bekerja sebagai guru. Mulai dari guru sekolah formal sampai guru les privat. Murid-muridku kebanyakan anak TK dan SD, sampai akhirnya terakhir aku mengajar anak SMA sebelum resign.
Nah, dari sepanjang perjalanan hidupku itu, ada satu “label” yang cukup melekat:
“Irene itu sabar.”
Orang-orang sering bilang aku cocok jadi guru karena keibuan dan sabar. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun, kalau ada masalah atau konflik, aku sering dengar kalimat seperti:
“Ah Irene mah terlalu sabar jadi orang.”
Sampai rasanya “sabar” tuh udah kayak nama tengahku sendiri. Irene Sabar Arenas. Hahaha.
Padahal jujur ya, aku nggak pernah benar-benar merasa diriku orang yang sabar. Yang aku rasakan cuma… aku selalu berusaha memperlakukan orang lain sebagaimana aku ingin diperlakukan. Aku hati-hati banget menjaga perasaan orang. Aku takut menyakiti mereka.
Selain itu, aku memang bukan tipe orang yang suka marah-marah. Kalau ada yang menyakitiku, biasanya aku memilih cara yang lebih halus untuk membela diri. Atau seringnya sih… pergi aja.
Mungkin karena itu aku terlihat lebih tenang dibanding orang lain.
Tapi sekarang aku jadi bertanya-tanya:
Apa aku dulu benar-benar sabar? Atau sebenarnya hidupku saja yang belum pernah menguji kesabaranku sampai habis?
Setelah Jadi Ibu, Rasanya Semua Berubah
Nah, di sinilah sebenarnya inti tulisan ini.
Setelah jadi orang tua, lebih tepatnya jadi ibu, aku merasa label “sabar” yang dulu sering diberikan orang ke aku itu perlahan runtuh.
Aku yang dulu dikenal tenang, sekarang justru sering kehilangan sabar ke anakku sendiri, Alana.
Dan jujur… itu menyakitkan sekali buatku.
Nggak jarang aku menahan air mata setelah marah ke dia. Aku merasa bersalah, merasa jadi ibu yang jahat, bahkan kadang merasa gagal.
Kadang aku bingung sendiri. “Di mana Irene yang dulu?” Kenapa aku bisa begitu menjaga perasaan orang lain, bahkan anak-anak lain, tapi justru paling sering “kelepasan” ke anakku sendiri?
Apa karena dia anakku, jadi aku merasa lebih aman untuk meluapkan emosi? Apa karena aku tahu dia akan tetap kembali ke aku, tetap memelukku, tetap menyayangiku?
Kalau dipikir-pikir, itu sedih banget.
Kesabaran yang Ternyata Bisa Habis
Sebagai ibu, aku tahu sekali teori-teori parenting itu seperti apa. Aku tahu anak yang belum genap 2 tahun memang masih belajar mengenal dunia. Aku tahu tantrum itu normal. Aku tahu mereka belum bisa mengatur emosi. Aku tahu mereka belum paham mana yang “benar” dan “salah”. Aku tahu semua itu.
Tapi mengetahui dan menjalani ternyata dua hal yang sangat berbeda. Karena setelah 10 jam membersamai anak, mendengar tangisan, membereskan rumah, mengulang hal yang sama berkali-kali, mencoba sabar dengan segala tingkahnya… kadang di jam ke-11 aku runtuh juga.
Dan di situlah aku baru sadar: Ternyata kesabaran memang ada batasnya.
Dulu aku pikir kalimat itu cuma pembenaran orang dewasa. Tapi sekarang aku mengerti rasanya ketika mental, tubuh, dan emosi dipakai terus-menerus tanpa jeda.
Bukan berarti aku nggak sayang anakku. Justru karena aku sayang, aku sering merasa sangat bersalah setelah marah.
Hal yang Paling Membuatku Menyesal
Setiap habis marah ke Alana, aku selalu minta maaf ke dia. Berkali-kali. Aku peluk dia, aku cium, aku ajak bermain lagi sampai dia merasa aman. Sampai dia kembali tertawa.
Dan tahu nggak hal apa yang paling bikin dadaku sesak? Anakku selalu memaafkan aku. Sesederhana itu. Dia tetap mau main sama aku. Tetap mau peluk aku. Tetap manggil “Mama” sambil senyum seolah nggak ada apa-apa.
Masya Allah… suci sekali hati anak kecil.
Kadang justru dari situ aku merasa paling hancur. Karena anak sekecil itu bisa memaafkan dengan begitu tulus, sementara aku masih sering kalah sama emosiku sendiri.
Belajar Lagi Menjadi “Ibu”
Jujur, aku nggak bisa janji kalau setelah ini aku akan jadi ibu yang selalu sabar. Karena aku tahu banyak hal memengaruhi emosi seorang ibu. Lelah. Kurang tidur. Overstimulated. Merasa sendirian. Kehilangan waktu untuk diri sendiri. Semua itu nyata.
Tapi satu hal yang bisa aku pastikan: Aku akan terus belajar.
Belajar mengenal diriku sendiri. Belajar mengatur emosiku. Belajar menyembuhkan bagian-bagian dalam diriku yang mungkin belum selesai. Supaya aku bisa membersamai Alana dengan lebih baik.
Karena mungkin… kesabaran memang ada batasnya.
Tapi cinta seorang ibu ke anaknya, rasanya selalu menemukan cara untuk kembali.
Terima kasih ya teman-teman yang sudah membaca, jujur ini beneran curhat sih hehehe Ada lega-leganya, tapi ada juga takut terlalu “frontal”. But again, ambil baiknya aja ya.
Love,
Irene Arenas