My Birth Story

My Birth Story

“Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim” terus berulang-ulang tanpa sadar aku ucapkan sesaat setelah aku mendengar tangis anakku yang pecah di ruang persalinan itu.


Hello, welcome back here! Aku mau berbagi sedikit tentang my birth story atau cerita persalinan pertamaku. Mungkin suatu saat aku akan lupa detailnya, jadi mumpung masih fresh dan masih ingat jelas, yuk let’s go!

First of all, HPL atau Hari Perkiraan Lahir anakku adalah 7 Juli 2024. Alhamdulillah kondisiku dan bayi saat itu sehat, jadi dokter mengizinkan persalinan normal. Karena lahiran normal tidak bisa ditentukan harinya, aku dan keluarga benar-benar menyiapkan diri kalau sewaktu-waktu bayi minta keluar. Aku dan suami bahkan sering mengafirmasi bayi kami: “Dek, nanti lahirnya weekend aja ya, waktu papa libur kerja, supaya bisa stand by di rumah dan nemenin mama ke RS.”

Di minggu ke-39 kehamilanku, tepatnya Sabtu 29 Juni 2024, aku dan suami kontrol rutin ke dokter untuk USG. Memasuki trimester 3, memang disarankan kontrol setiap 1–2 minggu sekali agar kondisi cepat terpantau.

Hasil USG saat itu cukup mengejutkan. Air ketuban sudah mulai berkurang dan agak keruh. Kami kaget, tapi dokter bilang bayi masih sehat, posisi sudah di bawah, dan tidak ada lilitan tali pusat. Namun dokter menyarankan induksi untuk segera melahirkan, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Saat itu kami langsung panik.

Kami pun mengabari orang tua di rumah untuk mempersiapkan barang-barang dan dokumen penting. Setelah administrasi beres dan dapat kamar rawat inap, suami pulang sebentar untuk mengambil perlengkapan. Sementara aku bersiap di kamar RS.

Suster menyarankan aku untuk mandi dan makan, agar lebih siap jika sewaktu-waktu ada tindakan. Setelah itu aku sempat olahraga ringan pakai gym-ball dan berjalan di lorong kamar, berharap proses persalinan lebih lancar.

Sekitar pukul 14.00, bidan memberikan obat pelunak rahim yang dimasukkan lewat jalan lahir. Kalau tidak salah, dosisnya dibagi 4 dan diberikan tiap 4 jam. Setelah obat habis, baru akan dilanjutkan infus untuk induksi.

Pukul 16.30, bidan mengecek pembukaan. Alhamdulillah sudah bukaan 1.

Tidak lama kemudian, aku mulai merasa mules. Ada rembesan air di kasur bercampur sedikit darah. Sepertinya air ketuban pecah. Aku segera bersih-bersih dan ganti baju pasien.

Selang beberapa menit, rasa sakit datang semakin kuat. Mirip nyeri PMS, tapi dikalikan 10. Karena aku jarang sakit saat PMS, rasanya benar-benar asing. Kontraksi datang dengan pola tertentu, setiap beberapa menit sekali.

Pukul 18.30, nyeri semakin hebat. Kami memanggil bidan lagi. Saat dicek, ternyata sudah bukaan 6–7. Semua langsung panik. Para suster berlarian menyiapkan ruang bersalin, menelpon dokter, dan bahkan ada bidan yang menahan jalan lahirku agar tidak terlalu cepat keluar sebelum pembukaan lengkap.

Aku sendiri sudah setengah sadar karena rasa sakitnya luar biasa. Fokusku hanya tarik napas, buang napas, dan berdoa. Suami terus mendampingi di sisiku. Kami di RS benar-benar berdua saja, karena proses ini datangnya begitu tiba-tiba.

Tak lama, dokter datang. Ternyata aku sudah bukaan lengkap (10). Instruksi mengejan segera diberikan. Aku mengejan 2 kali dengan jeda sebentar, lalu… Alhamdulillah, lahirlah anak perempuanku. Masya Allah Tabarakallah.

Rasa lega langsung menyelimuti. Semua sakit dan panik sebelumnya seolah terbayar lunas. Prosesnya sangat cepat dan bahkan infus belum sempat dipasang! Aku pun belum sempat diberi air minum atau teh, jadi setelah lahiran rasanya sangat haus, hahaha.

Aku menoleh ke arah suamiku yang masih terharu. Aku bersyukur dia berani menemani di ruang persalinan. Aku semakin paham bahwa melahirkan memang pertaruhan nyawa, dan sulit mengukur rasa sakitnya.

Namun alhamdulillah, aku tidak mengalami trauma. Justru aku merasa dikuatkan oleh Allah, oleh suami, dokter, bidan, suster, dan tentu saja oleh bayiku yang sehat, kuat, dan berhasil berjuang selama 9 bulan.

Itulah cerita persalinan pertamaku. Kalau ada detail yang kurang tepat mohon dimaklumi, ya soalnya waktu hari H, kesadaranku memang tidak 100%.

Love,
Irene Arenas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top