Me vs Book

Me vs Book

Hello, gimana kabarnya? Hope you guys good! Well, In my opinion kali ini aku mau share (sedikit curhat) mengenai hubunganku dengan buku. Let’s go!

Buku adalah “Jendela Dunia”

“Buku adalah jendela dunia.” Pasti kita semua sudah nggak asing dengan peribahasa itu. Dari kecil kita sudah sering mendengarnya supaya semangat membaca.

Menurutku, jendela di sini bisa diibaratkan sebagai ilmu pengetahuan, pengalaman, bahkan juga kesempatan. Kalau aku boleh mengartikan dengan bahasaku sendiri, membaca buku itu seperti membuka akses ke segala hal yang ingin kita ketahui atau dapatkan. Lewat buku, kita bisa menjelajah dunia dan melihat berbagai perspektif yang mungkin tak pernah kita alami sebelumnya.

Nggak heran kalau negara dengan minat baca dan literasi tinggi sering disebut sebagai negara maju. Karena semakin sering membaca, semakin terlatih juga otak kita dalam menangkap, mengolah, dan membentuk cara berpikir. Dari situlah lahir SDM (Sumber Daya Manusia) yang kritis, sistematis, dan siap memberi dampak baik bagi bangsa.

How About Me?

Kalau ditarik ke diriku sendiri, menurutku aku punya hubungan yang unik dengan membaca buku. Sebenarnya unik di sini lebih ke bingung, dan jadi muncul pertanyaan: “jadi aku sebenarnya suka baca buku nggak sih?”

Pertanyaan itu dimulai dari aku yang dulu sering memberi label ke diriku sendiri dan mendeklarasikan ke semua orang bahwa “aku nggak suka baca buku”, “baca buku bikin ngantuk”.

Tapi di sisi lain, aku adalah orang yang akan membaca sampai habis, memahami, bahkan menulis “inti sari” dari buku-buku yang aku pelajari di sekolah. Aku bahkan tidak ragu untuk meminjam atau membeli buku tambahan demi mendapatkan materi yang lebih lengkap.

Lebih dari itu, selain masuk jurusan sastra, di masa kuliah aku rela mencetak jurnal-jurnal ilmiah dan membacanya sambil bersantai demi mendapatkan sumber belajar yang valid. Bahkan jika ada ujian yang menjadikan suatu buku sebagai acuan, nilai A hampir selalu bisa aku dapatkan, karena aku babat habis isi bukunya.

Nah, dari situ aku mulai berpikir ulang, masa sih aku nggak suka baca buku? Sedangkan yang aku lakukan di masa sekolahku berkata lain. Tapi memang aku akui, di masa itu aku tidak membaca buku lain selain sumber belajar di sekolah atau kampus. Well, apa aku cuma suka belajar aja? Menurutku kalian gimana?

Karena jujur, kalau untuk membaca fiksi aku kurang mampu, kurang suka, dan agak nggak nyambung. Menurutku ngantuk dan sulit mengikuti alur imajinasinya. Bosan lah intinya. Sedangkan di masa sekolah, teman sebayaku nggak sedikit yang sering menenteng berbagai novel dari penulis keren-keren. Setiap aku berusaha meminjam untuk membaca, selalu aku kembalikan tidak tuntas hehehe.

Throwback~

Kalau boleh kilas balik sedikit, saat TK dan SD, mamaku sering membelikanku majalah, salah satunya Bobo. Pasti generasi Milenial sampai Gen Z awal tahu lah ya. Aku suka sekali baca majalah dan buku bergambar saat itu. Tapi setelah lulus SD, tiba-tiba kebiasaan membaca majalahku terputus, selain karena sudah tidak cocok lagi membaca majalah Bobo.

Seingatku, awal masuk SMP, beberapa kali ada transisi dari tipe majalah, aku mencoba meminjam buku cerita fiksi atau novel ringan atau teenlit istilahnya dulu. Tapi berhenti karena bapakku tidak memperbolehkan aku membacanya. Setiap ketahuan ada novel, pasti diminta langsung kembalikan. Katanya jangan baca yang aneh-aneh. Karena dulu aku anak yang baik dan penurut, ya aku kembalikan, tanpa bertanya kenapa. Dari situlah aku berhenti membaca selain buku pelajaran.

Mulai Belajar “Membaca” Lagi

Nah, setelah semakin dewasa, aku mulai sadar akan pentingnya membaca buku selain buku pelajaran (kebetulan udah nggak sekolah lagi) hahaha. Aku niatkan untuk mulai lagi membaca buku tipis-tipis. Selain untuk mengisi waktu luang, baca buku juga bisa jadi sarana me time yang lebih fokus, daripada main HP scrolling social media terus.

Jadinya, aku mulai mencoba membeli beberapa buku. Awalnya tidak langsung mulus, ada yang dibaca, tapi sering kali aku beli buku hanya untuk jadi sarang debu hahahaha. 

Selanjutnya, aku berhenti dulu beli buku, aku mulai mencari tahu minat baca bukuku itu genrenya seperti apa. Ternyata aku si pemula ini memang punya preferensi sendiri dalam membaca buku. Aku belum bisa seperti teman-teman yang bookworm, yang bisa enjoy membaca buku apa saja tanpa pilih-pilih.

Sementara ini, aku belajar menyukai buku-buku yang berbau “self improvement”. Menurutku sih karena mirip dengan buku pelajaran ya, jadi masih enjoy aku bacanya sambil belajar. Padahal kalau kata teman-temanku yang bookworm, novel atau cerita fiksi juga banyak loh pelajaran hidup yang bisa diambil. Nggak kalah bagus juga ilmunya.

Yah, semoga suatu saat nanti minat bacaku semakin bertambah dan aku juga bisa enjoy baca buku fiksi atau novel ya. Sekarang aku nggak mau ambisius dulu, yang penting aku usahakan semampuku, demi tidak menjadi SDM rendah. Eh, Bercanda ya hahaha.

Terima kasih sudah baca ceritaku. See you!

Love,
Irene Arenas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top