
Hi, semua! Siapa yang sudah baca cerita honeymoon aku di part 1? Nah, sekarang aku mau lanjut cerita bagian keduanya. Kayanya bakal lebih panjang dari sebelumnya, jadi boleh banget sambil siapin cemilan. Yuk, mulai!
Perjalanan ke Dieng
Dari Solo menuju Dieng, perjalanan kami cukup lancar. Bekal utama supaya nggak nyasar tentu saja Google Maps, ditambah suamiku sempat ngobrol dengan temannya yang pernah ke sana. Alhamdulillah, aman dan selamat sampai tujuan.
“Buka kaca mobil ah,” kata-kata itu keluar saat mobil mulai memasuki daerah Wonosobo. Udara sejuk yang dinginnya menggantikan AC mobil langsung bikin suasana happy. Padahal waktu itu masih siang, tapi hawa dinginnya sudah terasa. Kami pun senyum-senyum sendiri sepanjang jalan.

Jalanan mulai menanjak dan berkelok-kelok. Dari jauh terlihat bukit-bukit hijau, sementara sawah dan ladang sayuran mulai menghiasi kanan-kiri jalan. Pemandangan kebun teh yang membentang hijau juga ikut memanjakan mata.
Sampai akhirnya, kami memasuki sebuah perkampungan yang cukup tinggi, dan di situlah lokasi villa tempat kami menginap.
Glamping Nyaman di Dieng

Kami menginap di Glamping by Diengcool yang lokasinya ada di Karangsari, Dieng, Banjarnegara (Blok 2A), dekat dengan Kantor Diengcool Group dan perkampungan penduduk. Karena berdampingan dengan rumah warga, jalan menuju glamping terasa cukup sempit. Tapi menariknya, kami jadi bisa melihat langsung keadaan dan kebiasaan masyarakat sekitar.
Sedikit review, kami cukup puas menginap di sana. Fasilitasnya oke, pelayanannya ramah, dan tempatnya aesthetic untuk difoto. Karena kami datang saat weekday, pengunjung yang menginap tidak terlalu ramai. Buat kami ini justru poin plus, suasananya terasa lebih tenang dan private.
Tujuan utama kami memang menikmati pemandangan indah, udara sejuk, suasana damai, dan hamparan hijau. Selain itu, tentu saja mencoba kuliner khas Dieng yang terkenal.
Anyways, kami tiba di penginapan itu sore menjelang Magrib, jadi malam agendanya cuma jalan santai sekalian cari makan sambil menerjang dinginnya udara Dieng.
Hari Pertama di Dieng: Mie Ongklok & Kuliner Malam
Menu utama makan malam kami tentu saja Mie Ongklok khas Dieng. Kalau bisa dideskripsikan, ini mie rebus khas Wonosobo dengan kuah kental berwarna cokelat—campuran tepung kanji, ebi, kacang tanah, dan rempah. Biasanya disajikan dengan sate sapi atau ayam, plus tempe goreng.

Saat pertama dicicipi rasanya memang agak asing, tapi semakin dimakan justru makin nagih. Kuahnya kental, hangat, gurih, manis, dan semua pelengkapnya terasa pas. Selain itu, kami juga memesan minuman hangat. Wah, cocok banget diminum di udara dingin Dieng.
Jujur, kami nggak nyangka kalau dinginnya bakal dingin banget. Suhunya jauh lebih menusuk dibanding Bandung atau Puncak. Akhirnya malam itu kami sempat mampir ke toko aksesoris untuk membeli sarung tangan dan kupluk tebal, supaya nggak menggigil kalau keluar malam.

Setelah menikmati Mie Ongklok, rasanya sayang kalau langsung balik ke penginapan. Rasa penasaran membawa kami ke sebuah food court outdoor yang dihiasi lampu warna-warni. Suasananya cukup ramai oleh pengunjung.
Di sana, kami memesan menu standar, nasi goreng dan sop daging, sekadar untuk mengenyangkan perut. Maklum, udara dingin biasanya bikin cepat lapar. Sambil makan, kami ngobrol santai sambil menikmati suasana malam Dieng. Sesekali kami iseng meniupkan napas ke udara, lalu tertawa melihatnya berubah jadi seperti asap karena dingin.

Setelah puas berjalan-jalan malam, kami pun kembali ke penginapan untuk beristirahat. Malam pertama di Dieng kami tutup dengan rasa syukur dan senyum puas, siap menyambut petualangan esok hari.
Lanjut ke Part 3
Sebenarnya, aku sempat kepikiran mau menggabungkan hari kedua dan ketiga di Part 2 ini. Tapi tulisanku bisa jadi terlalu panjang. Lagipula, aku masih ingin menceritakan detailnya satu per satu. Excited pertama kali sampai di Dieng benar-benar terasa sampai sekarang.

Jadi, sekian dulu cerita hari pertama kami di Dieng. Mungkin tempat yang dikunjungi belum banyak, tapi rasanya memorable banget. See you di Part 3!