Welcome, here! Sebelum mulai, aku mau tanya dulu nih: kamu tim morning person atau night owl? Kalau aku sih kayaknya… yuk lanjut baca! Hehehe.
Morning Person vs Night Owl
Mungkin beberapa dari kita sudah familier dengan dua sebutan ini.
Kalau aku jelasin singkat dengan bahasaku: morning person itu orang yang lebih produktif atau energized di pagi hari. Mereka cenderung nyaman bangun pagi. Nah, kebalikannya, night owl itu lebih aktif dan fokus di malam hari, tapi biasanya agak sulit bangun pagi.
To be fair, bukan berarti satu lebih baik dari yang lain ya. Dua tipe ini punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebenarnya, ini berkaitan dengan jam biologis atau chronotype tubuh kita.
Chronotype ini dipengaruhi banyak faktor, salah satunya genetik. Jadi, seseorang gak tiba-tiba bisa berubah dari morning person ke night owl dalam semalam. Menurutku, mengubah jam biologis butuh usaha plus konsistensi.
Nah, apakah penting mengetahui kita morning person atau night owl? Menurutku sih penting, tapi tidak harus. Penting supaya kita tahu kapan tubuh kita fokus dan bisa bekerja optimal. Tidak harus, karena hidup juga tetap bisa berjalan tanpa kita label diri. Intinya, yang paling penting adalah listen to your body, kalau capek ya istirahat!
How About Me?
Kira-kira aku yang mana ya? Dari pengalamanku, aku merasa lebih cocok disebut morning person. Yuk, aku ceritain alasannya.

Sejak kecil, aku jarang banget bangun siang. Bisa jadi karena mengikuti pola orang tuaku, entah kebiasaan atau memang bawaan biologis. Saat sekolah, aku gak pernah kesulitan bangun pagi. Bahkan di akhir pekan pun aku tetap bangun pagi, berbeda dengan banyak teman yang habis subuh lanjut tidur lagi.
Waktu menginap di rumah teman, aku sering jadi orang pertama yang bangun. Saat mereka masih tidur, aku malah sudah asik main HP atau tiduran sambil nungguin yang lain terbangun.
Di masa ujian, aku juga lebih nyaman belajar pagi hari. Aku sering bangun sebelum subuh untuk melanjutkan belajar karena merasa lebih fresh dan fokus. Saat kuliah pun sama, teman-temanku biasa ngerjain skripsi sampai dini hari, tapi aku justru memulai jam 4 pagi. Rasanya lebih produktif dan banyak ide bermunculan. Sebaliknya, setelah jam 7 malam aku hampir gak bisa fokus lagi.
Sampai setelah menikah pun kebiasaan itu berlanjut. Walaupun kadang pulang larut malam dengan suami, aku tetap bangun pagi keesokan harinya. Setelah punya anak memang agak berubah karena kelelahan atau kurang tidur, tapi sebisa mungkin aku tetap usahakan bangun lebih pagi.
Buatku, memulai hari lebih pagi itu bikin aku merasa punya kendali penuh atas 24 jam dalam sehari. Mood juga jauh lebih baik dibanding kalau kesiangan, yang biasanya bikin aku mager seharian.
Bangun pagi juga jadi semacam pencapaian kecil yang patut dirayakan. Rasanya seperti menang melawan ego sendiri. Plus, aku bisa merasakan slow living di tengah rutinitas yang hectic.
Remember to Listen to Your Body
Tentu saja, aku juga realistis. Kalau memang tubuhku lelah dan kurang tidur, aku pasti memilih untuk lanjut istirahat. Jadi, menurutku apapun chronotype-mu, yang paling penting adalah mendengarkan sinyal tubuhmu sendiri.
Sekian dulu cerita dari aku. By the way, kamu tim yang mana nih? 😁
Love,
Irene Arenas