Delayed Gratification: Happiness Worth Waiting For

Delayed Gratification: Happiness Worth Waiting For

Hai, welcome back!
Langsung aja ya, aku tuh sering tiba-tiba kepikiran sesuatu based on pengalamanku, baik yang baru atau lama. Kadang aku langsung pengen cerita ke orang, tapi kebetulan lagi gak ada orang. Pengen nulis di IG Story, tapi kepanjangan. Jadi, di sinilah wadahnya, In My Opinion…

Delayed Gratification

Aku yakin beberapa dari kita udah familier tentang terms delayed gratification. Gampangnya, dalam Bahasa Indonesia adalah keadaan di mana kita secara sadar menunda kepuasan/keinginan/harapan kita sekarang, demi hasil yang lebih baik/besar di masa yang akan datang. Lebih pendeknya lagi, kepuasan yang ditunda!

Well, di sini aku gak mau berteori. Karena pasti sudah banyak juga yang membahas hal ini baik di jurnal atau artikel ilmiah. Balik lagi, yang aku mau share adalah pengalamanku terkait delayed gratification ini di kehidupanku dan sekitarku.

Tanpa aku sadari, dari kecil aku sudah menerapkan hal ini. Lupa juga bagaimana orang tuaku mengajariku. Intinya aku sadar betul: apapun yang aku inginkan, tidak bisa “cling” secara instan didapatkan.

Mungkin ada beberapa faktor yang membuat aku punya mindset begitu. Salah satunya pasti karena uang jajanku terbatas, hehehe 😜

Lebih Dari Sekedar “Materi”

Gak cuma soal materi, delayed gratification ini juga berpengaruh pada mindset-ku untuk hal-hal lain: seperti mencapai suatu prestasi, badan yang sehat, maupun keadaan lain yang ingin dicapai. Jujur, aku jadi merasa waras dalam menjalani kehidupan yang banyak maunya ini.

Coba bayangkan kalau aku yang berat badannya 70 kg, pengen punya body goals dengan target 50 kg. Apakah masuk akal kalau pengen instan turun 20 kg dalam satu bulan? Bisa sih, tapi tetap saja, apa yang harus dikorbankan untuk mendapatkan cara “instan” tersebut?

Secara personal, delayed gratification ini juga berpengaruh dalam hal bersabar dan bertawakal atas doa/harapan yang telah aku panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aku selalu optimis dan yakin bahwa suatu saat Allah akan mengabulkan. Aku juga jadi jarang mengeluh (bukan berarti tidak pernah ya), karena cepat atau lambat Allah akan menunjukkan jawaban atas doaku tersebut.

Sampai sekarang, kalau aku mau barang atau hal apapun, aku akan berusaha mendapatkannya secara sadar. Maksudnya? Aku tidak menggebu-gebu, walau mimpi dan keinginan pasti selalu ada di hati. Aku yakin suatu saat jika hal itu baik, aku akan mendapatkannya. Jika tidak bisa kudapatkan, aku juga yakin pasti akan diganti dengan yang lebih baik.

So far, banyak sih manfaatnya untuk hidupku. Kalau mau dijabarkan satu per satu, yaitu aku jadi lebih tenang menjalani hidup, tidak mudah menyerah, belajar berusaha dan bersabar, tidak mudah mengeluh akan keadaan, tidak mudah iri, lebih menghargai sesuatu, dan bersyukur atas apa yang aku miliki.

Intermezzo

Nah, ngomong-ngomong, baru aja aku mengalami hasil dari delayed gratification ini secara nyata. Dan bener aja, endingnya lebih bikin bahagia. Alhamdulillah ya sesuatu ✨

Ceritanya, dari beberapa bulan lalu aku pengen beliin anakku bucket hat atau topi saya bundar yang lucu dan kualitas bahannya bagus. Dengan keywords “bahan bagus” aja, sudah dipastikan tidak murah ya. Oke lah, murah mahal itu relatif, tapi karena ini “Irene’s Corner” jadi ya begitulah ya 🤣

Setelah beberapa bulan menunda, akhirnya hari ini aku bisa membeli topinya dengan best deals. Pas banget ada promo Buy 1 Get 1, bisa pilih ukuran yang berbeda pula. Langsung tanpa pikir panjang, aku beli topinya dengan bayar harga 1 item jadi dapat 2 items. Wah, gimana gak happy?

Ini dia bucket hat-nya! Aku beli di mamayayaproject.com

Gimana lucu nggak? Lucu aja lah ya. Aku suka banget motif nya bunga-bunga, kebetulan aku juga gambar bunga yang bermacam-macam. Aku ambil dua ukuran, yang satu 46 cm dan satu lagi 48 cm. Supaya nanti anakku bisa pakai juga walau sudah bertambah umurnya hehehe

Well, that’s all, sekilas opini dan pengalamanku tentang menunda kepuasan, yang pastinya as soon as possible akan aku ajarkan juga ke anakku. Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat, see you!

Love,
Irene Arenas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top